Total Tayangan Halaman

Selasa, 08 November 2011

Irwan si mata satu dari bungkul

anak kecil itu berjalan sambil membawa keranjang penuh dengan pastel ketika kupanggil. “duduk sini wan” ujarku sambil menggeser tempat duduk ku. anak kecil yang kupanggil itu bernama irwansyah (10), sudah hampir 2 tahun dia berjualan pastel keliling di taman bungkul ini. anak ke dua dari dua bersaudara ini terpaksa putus sekolah karena sakit tumor mata yang di deritanya. biaya yang seharusnya untuk sekolah pun digunakan untuk mengoperasi mata kirinya, yang menelan banyak biaya. kini irwan begitu sapaanya harus rela kehilangan satu matanya.
meski memiliki satu mata, irwan tidak merasa minder. ejekan dari kiri kanan pun sudah sering dia terima. namun bagi anak seumur irwan, dia cukup kuat menerima ejekan dari teman-teman sebayanya. sesungguhnya irwan patut menjadi contoh, dengan keterbatasan secara materi dan fisik. dia masih sanggup membantu perekonomian orang tuanya yang hanya sebagai kuli bangunan dan pembuat pastel.
keluarga pendatang dari kalimantan ini merantau demi memperbaiki nasib, karena rumahnya yang telah hangus terbakar disana. namun, apa daya ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. setelah jauh merantau, justru irwan dan keluarga ditipu oleh saudaranya sendiri yang akhirnya kini tidak punya apa-apa lagi. jadilah irwan berjualan pastel keliling buatan ibunya, sedangkan kakak lelakinya berjualan minuman dingin keliling di pelabuhan perak untuk membantu menopang perut-perut yang harus diisi.
dengan keuntungan Rp 20.000 sampai Rp 30.000 perhari, irwan menyisihkan sedikit penghasilan untuk sekolah kembali. keinginan belajarnya yang sangat tinggi membuat saya tertegun dengan hidup yang saya jalani sekarang. semangat hidupnya yang tinggi di umurnya yang masih sangat dini, membuat saya sangat membuka mata tentang apa arti sebuah hidup.
kini irwan bukan hanya sekadar penjaja pastel keliling, namun dia telah menjadi adik angkat saya. irwan kembali bersekolah, kembali tersenyum dengan memanggul tas barunya. mungkin apa yang telah saya perbuat ke irwan tidak sebanding dengan apa yang saya terima dari ceritanya.
irwan tidak lupa siapa jati dirinya, sepulang sekolah dia tetap berkeliling taman bungkul untuk menjajakan kembali pastel buatan ibunya. terkadang sengatan matahari yang begitu terik, tidak membuat irwan bermalas-malasan mencari beberapa lembar ribuan. taman bungkul telah menempati tempat tersendiri di hati irwan.
mungkin telah banyak irwan irwan yang lainnya di taman bungkul ini. sebagai jantung kota surabaya, taman bungkul menyimpan sejuta cerita di balik hijaunya pohon-pohon rindang. diantara hiruk pikuk orang yang sekadar melepas penat sambil menyeruput hangatnya secangkir kopi. tinggal bagaimana kita generasi muda mengatasi masalah-masalah ini yang tersembunyi di balik orang-orang berdasi bertawa renyah pengumbar janji palsu.
semoga semangat seorang anak seperti irwan, dapat memicu kita untuk lebih bersyukur dengan hidup yang kita jalani. kalo bukan kita, siapa lagi yang mampu mengulurkan tangannya demi masa depan mereka. created by merlin/10.31.3657
nb: maav ya gan, untuk foto menyusul.. si irwan pemalu banget susah difoto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar